Memeluk Gagal Dalam 848 Kata
*
*
*
(1)
Saya
sudah terbiasa terjatuh dan menangis dalam menghadapi realita kehidupan. Saya
terbiasa dengan kekecewaan dan segala kemungkinan yang hadir. Akan tetapi, jika
itu menyangkut kegagalan dan ketidakberhasilan kenapa selalu ada jeda yang
menyakitkan?
Didalam hidup, saya selalu memasang standar tinggi untuk setiap hal yang saya lakukan. Saya berusaha menunjukkan dan mengupayakan segala hal baik yang bisa dilakukan. Sedari kecil jiwa kompetitif dan ambis seperti sudah menjadi bagian dari diri. Lebih tepatnya, perasaan untuk bisa bersaing itu muncul lantaran lingkungan yang tidak memberikan validasi . Akhirnya saya berusaha dengan keras agar diterima di lingkungan keluarga besar.
Jika saya tidak bisa mengikuti standar presensi yang mereka ciptakan karena saya tidak cantik, maka saya menciptakan standar lain yang bisa bersanding dengan pemilik kecantikan.
Pada tingkat sekolah dasar saya membuktikan hal tersebut. Saya berturut – turut
berhasil mempertahankan posisi tiga besar pada ujian akhir kelas dan
berlangsung setiap tahun sampai saya lulus sekolah menengah pertama. Perjalanan berlanjut sampai saya masuk sekolah menegah atas. Meskipun tidak
sampai peringkat tiga besar tetapi setidaknya saya masih berada di lima dan
mentok di sepuluh besar. Presensi saya kemudian diakui oleh lingkungan
dimanapun saya berada. Pada tingkat menengah pertama saya selalu dianggap
saingan yang harus dikejar oleh beberapa teman, demikian pula sampai saya di
menengah atas. Mereka menganggap saya adalah lawan yang harus dihadapi –
meskipun didalam diri saya ada rasa insecure
dan kekahwatiran yang muncul karena anggapan teman – teman disekeliling
saya.
Kemudian
kehidupan perkuliahan saya juga dilalui dengan pencapaian berbau akademik.
Mendapatkan perhatian dosen didalam kelas. Menerima beasiswa prestasi selama
dua periode, didapuk sebagai perwakilan kelas jika ada hal – hal yang
bersinggungan dengan akademik dan birokrasi kampus. Presensi hadir mengikuti
saya yang hidup dalam jiwa kompetitif dan ambisius. Kemudian pada tahun 2020,
tepatnya bulan Agustus saya dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude – meskipun jika boleh jujur
saya tidak puas dengan hasil empat tahun belajar di kampus yang menklaim
sebagai kampus pergerakan- masih ada rasa tidak puas terhadap hasil nilai bejar
dan skripsi yang saya olah. Meskipun salah satu almarhum dosen penguji sudah
memberikan applause lantaran skripsi yang saya tulis. Saya masih tidak puas dan
menyesal telah menyiakan empat tahun yang kurang berarti. Ketika pada bulan
desember ditahun yang sama saya berhasil mendapatkan pekerjaan pertama masih
ada rasa kurang puas yang hadir bahkan sampai sekarang.
Saya merasa tidak puas dengan segala pencapaian yang sudah saya raih. Saya merasa bahwa saya bisa melangkah lebih jauh dari apa yang sudah saya tapaki. Oleh karenanya, saya belajar mati – matian, upgrade kemampuan diri setiap hari dan membaca lebih banyak dari biasanya. Tetapi saya tetap biasa saja. Saya belum bisa terbang ke tempat yang saya impikan. Bahkan ketika beberapa waktu lalu saya mengikuti seleksi masuk perusahaan impian, saya lagi dan lagi harus menerima kegagalan.
Kegagalan yang saya alami nyata didepan mata bahkan sebelum pengumuman diutarakan. Saya sudah menangis kala pertama kali mengerjakan semua soal yang diberikan. Saya merutuki diri saya yang bodoh dan tidak berguna. Bagaimana bisa saya melewatkan kesempatan yang menuju pada impian saya?
(2)
Lagi – lagi saya gagal dan stuck di tempat saya berdiri – saya belum bisa mengepakkan sayap untuk terbang lebih jauh, untuk terbang nan tinggi
Sampai
pada hari saya menulis ini saya masih merutuki akan kebodohan dan inkompentensi.
Bagaimana bisa seorang yang mengaku belajar dan upgrade diri berkali – kali
masih terlilit ditempat yang sama? Bagaimana bisa seseorang yang sudah hampir
dua tahun bekerja tidak memiliki kompetensi yang bisa diunggulkan? Bagaimana
bisa saya menjadi sesorang yang begitu penakut untuk mencoba segala hal baru?
Dan segala bagaimana bisa itu muncul dikepala. Saya memberikan pengadilan
mutlak untuk diri saya. Untuk ketidakberhasilan saya dalam mencapai setiap hal
yang saya impikan.
Kemudian,
pada hari yang sama saya menulis tulisan ini – setelah jeda beberapa jam – saya
akhirnya menyadari beberapa hal dan merenungkan kembali segala perlakuan keras.
Perlakuan keras yang cenderung menghakimi diri sendiri.
(3)
Bahwa,
kegagalan bukan suatu kesalahan. Maksudnya, saya tidak harus menyalahkan untuk
semua kegagalan yang menghampiri. Saya tidak harus menghakimi diri seburuk
hanya untuk kegagalan yang sebenarnya bisa dikejar dengan cara lain. Dan saya
tidak harus menurunkan standar hidup untuk memuaskan segala ambisi yang hadir.
Yang perlu saya lakukan adalah menanamkan kedalam benak bahwa setiap kegagalan
dan ketidaksampaian terhadap hal yang diidamkan
merupakan pembelajaran terhadap segala kehidupan. Bahwa tidak semua yang kita
lalui didalam hidup membuahkan hasil yang baik. Tidak semua pencapaian yang
kita susun akan membuahkan satu hasil seperti yang terancang dikepala. Bahwa
segala sesuatu yang terjadi ada pembelajaran yang bahkan tidak bisa didapatkan
pada orang lain.
Kegagalan
juga menjadi pengingat bahwa kita hanyalah manusia, dimana rasa suka dan duka
mengalir. Kegagalan membuat saya sadar bahwa memang baiknya beberapa hal tidak
sesuai dengan rencana. Hal tersebut membuat kita memundurkan langkah barang
sejengkal untuk menghela nafas. Memberikan jeda untuk diri. Kata gagal
diperlukan untuk meyakinkan diri bahwa kita hanya manusia lemah. Sehingga segala
sifat kesombongan dan berbangga diri bisa kita singkirkan. Tuhan memberikan
kegagalan agar kaki kita tetap bertapak pada bumi. Bahwa semua gagal yang saya
jalani merupakan pembelajaran yang berarti untuk mendewasakan. Untuk arif
menghadapi hidup. Untuk pantang menyerah dalam setiap langkah. Maka, banyak
gagalku hari ini adalah cara tuhan untuk menegur sekaligus memelukku dari
setiap angan yang dirangkai.
Komentar
Posting Komentar